20 Cerita Humor Mukidi yang Bikin Kamu Ngakak

SEKITARPANTURA.COM - Nama Mukidi, hari ini sedang naik daun. Namanya ramai diperbincangkan di mana-mana. Di media sosial, maupun di grup aplikasi pesan instan, WhatsApp. Ketenaran nama Mukidi, hari ini seakan menjadi virus bagi masyarakat Indoensia, termasuk di kawasan pantura.

Di perkantoran, warung dan berbagai tempat tak jarang memperbincangkan Mukidi, bahkan, nama Mukidi terkadang juga dijadikan sebagai bahan candaan untuk teman-teman. Namun, siapakah sebenarnya Mukidi?

Jika ditelusuri, Mukidi hanyalah sosok fiktif belaka. Perannya juga tidak begitu jelas, karena ia bisa menjadi anak kecil, orang dewasa, kakek-kakek, orang Jakarta, orang Jawa, orang Madura atau siapa saja asal bisa membuat orang tertawa.

Cerita Mukidi bermula dari blog Ceritamukidi. Di sana tertulis kalau Mukidi punya istri bernama Markonah, dua orang anak bernama Mukirin dan Mukiran, serta punya sahabat bernama Wakijan. Tidak jelas siapa yang menulis kisah Mukidi di blog tersebut yang kemudian tersebar di mana-mana. Yang pasti, dia berhasil membuat banyak orang tertawa dengan kisahnya.

Berikut beberapa di antara cerita humor Mukidi yang diambil dari blog tersebut, yang bisa bikin kita tertawa ngakak.




MUKIDI DAN GAJAH

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Bel sekolah berbunyi dan para siswa pun langsung berlarian memasuki kelasnya masing-masing. Termasuk Mukidi. Mukidi memang sangat dikenal oleh para guru di sekolah itu. Anaknya sih enggak bandel-bandel amat. Namun dia sangat populer sebagai anak yang nyebelin banget.

Siang itu Mukidi duduk di paling depan. Karena salah satu bangku teman yang ada di depan tidak masuk. Maka dari itu Mukidi berniat duduk di paling depan. Kebetulan pelajaran hari itu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Ini adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Mukidi. Nah pada kesempatan itu, Guru Mukidi berkeinginan untuk membuat tebak-tebakan nama hewan. Berikut dialognya

Guru: "Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G ?".

Mukidi berdiri dan menjawab: "Gajah, bu guru !"

Guru: "Bagus, pertanyaan berikutnya. Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf 'D' ?"

Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri: "Dua gajah, Bu Guru..."

....gerrr sekelas

Guru: "Mukidi, kamu berdiri di pojok sana !

Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf "M"?

Semua murid diam.

Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang, "Mungkin Gajah..."

Guru: "Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu !"

Mukidi keluar dengan suuedihhh. Guru melanjutkan.

Guru: "Pertanyaan terakhir. Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf "J"?

semua diam.

Tak lama sayup-sayup terdengar suara Mukidi dari luar kelas

Mukidi: "Jangan-jangan Gajah"

Saking kesalnya, Bu Guru menyuruh Mukidi pulang....

Guru: "Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P ?"

Sekali lagi semua murid terdiam.

Tiba-tiba HP bu Guru berdering.

Guru: "Ya hallo..."

HP: "Maaf bu, saya Mukidi. Jawabannya: Pasti Gajah"



TERNYATA MUKIDI TERLALU SAYANG SAMA ISTRINYA

Suatu hari istri Mukidi akan melahirkan anak pertama mereka.

Mukidi pun buru-buru ke rumah sakit dan disuruh masuk untuk menyaksikan proses persalinan

Setelah persalinan selesai Mukidi pun mengecup kening istrinya sambil berkata:

Mukidi: Alhamdulillah... anak kita perempuan, makasih yaa, sayaang...

Istri: Iyaa, kang

Mukidi: Sakit yaa, sayang...?

Istri: Iyaa kang...sakiit banget!

Mukidi: Yaaank... aku sayaaang banget sama kamu... aku ga tega

Istri: Iyaa kang...!

Mukidi: Nanti kalau untuk anak kedua titip sama yang lain aja yaaa... jangan dari kamu lagi, aku ga tega, yaang.

Istri: ...??????????...



SETELAH MUKIDI SUKSES DAN PUNYA ANAK CUCU

Suatu malam, mbah Mukidi yang sudah berusia 85 tahun telpon ke dokter pribadinya.

"Dokter, ada yang aneh dengan toilet saya. Setiap malam waktu saya mau kencing, lampunya langsung nyala sendiri begitu saya buka pintunya."

Sang dokter menjawab, "Mbah, Embah istirahat saja deh, nanti saya perbaiki." Kata si dokter, mencoba menenangkan Mbah Mukidi.

Karena merasa ada yang aneh, kemudian si dokter menelpon keluarga si Embah, dan yang mengangkat putri bungsunya, Sheilla namanya.

"Halloo Dik Sheilla, tadi Mbahmu memberitahu bahwa lampu toiletnya langsung menyala saat pintunya dibuka, apa memang kamar mandi dipasang lampu otomatis ?"

Mendengar hal ini, Sheilla langsung berteriak,

"Mamah... Kakak ... Mbok Ijah ... Papah kencing di kulkas lagi tuhhh..."

Dokter: "Waduhhhh..."



MUKIDI NONTON BIOSKOP

Jam 8 pagi di kantor bioskop.

Kriiiiing! telepon di meja kantor bioskop XXl berbunyi.

Mukidi: "Halloow Mas.... saya mau nanya, bioskop buka jam berapa.... ?"

Penjaga: "Jam satu Mas.

Mukidi: "Bisa buka jam sembilan tidak mas?"

Penjaga: "Gak bisa. Biasa jam satu bukanya."

Jam 11, telepon bunyi lagi.

Mukidi: "Hallow..... Jam berapa bukanya bioskop?"

Penjaga: "Kamu yang telepon tadi ya, Mas? Kan sudah dikasih tau.. bukanya jam 1"

Mukidi : "Jam 12 tidak bisa, Mas?"

Penjaga: "Tidak bisa! Emang bioskopnya Mbahmu apa!"

Mukidi: "Nawar sedikit saja, Mas. Enggak apa-apa sudah, setengah satu saja ya?"

Penjaga: [dongkol] "Sebenarnya kamu mau nonton film apa tho, kok telepon terus-terusan?"

Mukidi: [sambil menangis] "Saya ini sebenarnya di dalam bioskop, Mas. Tadi malam pas nonton pilem ketiduran. Tolong, Mas, bukakan pintunya. Saya pengin pulang."



MUKIDI LAGI MUKIDI LAGI

Ternyata Markonah, istri Mukidi, masih perawan. Dia pergi ke dokter kandungan untuk periksa.

Waktu dokter mau periksa bagian dalam, terjadi percakapan:

Markonah: “Hati-hati periksanya ya, dok, saya masih perawan lho…”

Dokter: “Lho… katanya ibu sudah kawin-cerai 3x, mana bisa masih perawan…?? ”

Markonah: “Gini lho Dok, eks suami saya yang pertama ternyata impoten…...!!”

Dokter: “Oh begitu… tapi suami ibu yang kedua tidak impoten kan....?”

Markonah: “Betul Dok, cuma dia gay, jadi saya tidak pernah diapa-apain sama dia…”

Dokter: “Lalu suami ibu yang ketiga si Mukidi tidak impoten dan bukan gay kan....?”

Markonah: “Betul Dok, tapi ternyata dia itu orang partai…”

Dokter: “Lalu apa hubungannya dengan keperawanan ibu…??”

Markonah: “Dia? cuma janji-janji saja Dok, tidak pernah ada realisasinya..... Jadi cuma dicontreng aja, gak dicoblos......!!!



MUKIDI MERDEKA


Jaya adalah tetangga Mukidi, tapi mereka tak pernah rukun. Mukidi merasa Jaya adalah saingannya.

Jika Jaya beli sepeda baru, Mukidi tidak mau kalah. Mukidi ya beli sepeda baru juga.

Ketika menjelang Lebaran, rumah Jaya dicat merah. Besoknya, Mukidi mengecat dengan warna merah juga.

Karena kini 17 Agustus-an, Jaya memasang spanduk di depan rumah bertulisan "INDONESIA TETAP JAYA".

Hati Mukidi panas dan memasang spanduk juga dengan tulisan "INDONESIA TETAP MUKIDI"



MUKIDI IKUT LOMBA NYANYI LAGU HARI KEMERDEKAAN

Mukidi: "Enam belas Agustus tahun empat lima...".

Juri: "Salah itu..., ulangi !".

Mukidi: "Enam belas Agustus tahun empat lima...".

Juri : "Salah..., kesempatan terakhir!"

Mukidi: "Saya ndak salah pak, sampean dengar saya nyanyi dulu".

Akhirnya juri serius mendengarkan Mukidi bernyanyi.

Mukidi: "Enam belas Agustus tahun empat lima..., BESOKNYA hari Kemerdekaan kita..."



AYAM GORENG

Dalam keadaan lapar, Mukidi masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja Mukidi hendak memegangnya, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.

"Maaf Mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang di sana," kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman.

Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mukidi ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya.

Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mukidi dan menggertaknya.

"AWAS kalau kamu berani menyentuh ayam itu...!!! Apa pun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus lehermu..!!!"

Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis sambil berkata, "Silakan! siapa takut?"

Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat pantatnya.



MUKIDI LAGI..OH... MUKIDI


MUKIDI yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta.

Dia keliling Jakarta dengan naik metromini.

Dia mengamati segala yg terjadi di dalam metromini. Termasuk kernet dan penumpang bus tersebut.

Tak lama kemudian si kernet bilang: "Dirman.. Dirman.. Dirman.." (tanda bahwa bus sampai di Jalan Sudirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak: "kiri..!"

Dan turunlah penumpang tersebut..

Selang berapa lama kernet teriak: "Kartini.. Kartini.. Kartini.."

Seorang cewek muda nyeletuk: "kiri..!", lalu cewek tsb pun turun..

Beberapa lama kernet itu teriak lagi: "Wahidin.. Wahidin.. Wahidin.."

Adalagi cowok yang bilang: "Kiri!"

Tak selang lama si kernet teriak lagi: "Gatot Subrotooo! Gatot Subrotooo!"

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab: "Kirii..!!"

Maka turunlah si kumis itu.

Maka....

Tinggallah seorang diri MUKIDI dalam bus. Dengan hati jengkel dia colek si kernet, dengan nada marah MUKIDI bilang:

"Korang ajjar sampiyan ya... Daari tadi orang-orang sampiyan panggil. Lhaaa nama saya ndak sampiyan nggil panggil! Kalo begini, kaaapan saya toron?!!!"

Untung si kernet tanggap..

"Siapa nama Bapak..?"

"Namaku MUKIDI", jawabnya.

Si kernet langsung teriak: "MUKIDI. MUKIDI.. MUKIDI.. !!!"

MUKIDI pun lega dan berkata: "Naaaah.. Beggiitu..!! Kirri...!"

Maka turunlah MUKIDI di jalan tol.

Bagi yang menemukan MUKIDI harap menghubungi keluarganya di Sumenep.


MAAF, MUKIDI MUNCUL LAGI

Guru bertanya: "Anak-anak... Siapa yg mau masuk surga..?"

Serempak anak-anak menjawab "Sayaaaa..!"

Mukidi yang duduk di belakang diam saja..

Bu guru bertanya lagi: "Siapa yang mau masuk neraka..??"

Anak-anak: "Tidak mauuuu....!!!" Mukidi tetap diam saja.

Bu guru mendekat: "Mukidi, kamu mau masuk surga atau neraka...?

Mukidi: "Tidak kedua- duanya bu guru..."

Bu guru: "Kenapa..?"

Mukidi: "Habis waktu ayah saya mau meninggal, beliau berpesan, 'Mukidi, apa pun yang terjadi kamu harus masuk TENTARA...!"


MUKIDI NYARI UANG KEMBALIAN

Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Bu Markonah.

"Buk, rujak satu, berapa?" tanya Cak Mukidi.

"Sepoloh rebu..cak..," kata Bu Markonah.

Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah bilang, "Cak... tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya," kata Markonah sambil menunjuk belahan dada atas.

Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem di sana pikirnya. "Nggak ada..Bu." kata Cak Mukidi.

Buk Markonah kasih instruksi, "Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri."
Cak Mukdi: "Nggak ada...Buk."

"Ya sudah," kata Buk Markonah.

"Lah terus mana kembalian saya????" tanya Cak Mukidi bingung.

Buk Markonah dengan enteng berkata, "Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis."

Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah


MUKIDI NAIK METROMINI

Mukidi yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta.

Dia ingin keliling Jakarta naik Metromini.

Diam-diam dia mengamati segala yang terjadi di dalam Metromini. Termasuk tingkah laku kernet dan penumpang.

Tak lama kemudian si kernet bilang. "Dirman.. Dirman.. Dirman.." (tanda bahwa bus telah sampai di Jalan Sudirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak, "kiri..!" Dan turunlah penumpang tersebut.

Selang berapa lama kernet teriak. "Kartini.. Kartini.. Kartini.." Seorang cewek muda kemudian nyeletuk. "kiri..!" lalu cewek tersebut pun turun.

Beberapa lama kernet itu teriak lagi. "Wahidin.. Wahidin.. Wahidin.." Adalagi cowok yang bilang, "kiri..!"

Tak selang lama si kernet teriak lagi. Gatot Subroto!! Gatot Subroto!!

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab, "kiri. kiri....!!" Maka turunlah si kumis itu.

Tinggallah seorang diri Mukidi di dalam bus. Dengan hati ngedumel, lama-lama jengkel juga dia. Lalu dicoleklah si kernet, dengan nada marah Mukidi bilang, "Kurang ajar sampeyan ya. Dari tadi rang-orang sampeyan panggil. Lahh,, nama saya ndak sampeyan nggil-panggil!! Kalau begini caranya. Kapan saya turun ?!!!"

Untung si kernet tanggap. Kernet bertanya. "Siapa nama bapak?"

"Namaku Mukidi", jawab Mukidi.

Si kernet langsung teriak. "Mukidi.. Mukidi.. Mukidi.. !!!"

Mukidi pun lega dan berkata. "Nah, begitu!!". "Kirri..!" Maka turunlah Mukidi di jalan tol.

Bagi Anda yang menemukan Mukidi harap menghubungi keluarganya di Sumenep.


MUKIDI DAN PASANGAN MESUM

Mukidi punya kebiasaan jelek, yaitu suka ngintip orang yang sedang pacaran. Tempat favoritnya untuk mengintip adalah di atas pohon. Di mana di bawahnya sering digunakan untuk pacaran.

Seperti biasanya, malam itu Mukidi sudah stand by di atas pohon untuk mengintip. Dan benar saja tak berapa lama datang pasangan Kipot dan Kipit datang.

Karena dianggap sepi dan aman Kipot dan Kipit akhirnya indehoi. Mukidi benar-benar menikmatinya tontonannya.

Setelah indehoi, keduanya bercakap-cakap:

Kipit : Pot, aku takut hamil.

Kipot : Enggak mungkin hamil, kan baru sekali ini.

Kipit : Tapi kata temenku bisa pot, Bagaimana dong?

Kipot : Kalau bener hamil, ya kita serahkan saja sama yang di atas.

Tiba-tiba Mukidi turun dari pohon dan marah-marah: "ENAK AJA LU, GUA CUMA NONTON, LU MINTA GUA TANGGUNG JAWAB, GAK BISAA!!!!"


MUKIDI NAIK UNTA ARAB

Mukidi lagi melancong ke Arab, seperti orang Indonesia yang lainnya. Dia juga ikut tour naik unta. Tapi unta di Arab tidak seperti unta di Indonesia, ketika Mukidi bilang, "duduk" dan unta langsung duduk.

Namun lain kejadiannya. Unta di Arab, walaupun Mukidi sudah bilang: "Duduk, sit.. sit, jongkok, diuk."

Sang unta tetap berdiri, dan akibatnya Mukidi tidak bisa naik.

Pawang Unta (PU): "Bilang Assalamualaikum, baru unta duduk."
Mukidi: "Asalamualaikum" langsung onta duduk, Mukidi naik, unta langsung berdiri lagi.
Mukidi: "Jalan.. jalan.." unta tetap diam. Dipukul pukul punggungnya, unta tetap tidak mau jalan.
PU :"Bilang Bismillah "
Mukidi : "Bismillah"
Onta jalan, Mukidi senang jalan naik unta dengan Pawang Unta berjalan di sampingnya.

Tak lama kemudian Mukidi bertanya, "Pawang. Bagaimana cara nyuruh untanya lari ya?"
PU: "Bilang aja Alhamdulilah"
Mukidi : "Alhamdulilah." Dan unta pun berlari.

Mukidi senang sekali. Saking senangnya Mukidi bilang lagi "Alhamdulilah." Dan si unta berlari tambah kencang, dan si Pawang Unta makin ketinggalan.

Ketika Mukidi sudah jauh si Pawang Unta baru ingat, belum memberi tahu caranya onta berhenti. Dari jauh PU berteriak: "Kalo mau berhenti bilang Innalillahi.."

Karena sudah jauh Mukidi tidak mendengar. Dan si unta terus berlari dengan kencang. Sampai akhirnya di kejauhan Mukidi melihat di depan ada jurang yang sangat dalam. Mukidi ketakutan, dan mencoba menghentikan onta: "Stop, stop, stoooop, stooop, oop, oop..!!"

Unta tetap berlari, jurang sudah terpampang di depan mata. "Mati gue!" kata Mukidi. Tahu dia akan jatuh kejurang dan mati.

Dalam kepanikannya dia berteriak: "Innalillahi..!!" sambil memejamkan mata pasrah. Unta mendadak berhenti. Dan ketika Mukidi membuka mata. Dia melihat persis di tepi jurang. Saking senangnya tidak jadi mati, Mukidi berteriak: "Alhamdullilah!"

PLUNG!!! .....


MUKIDI BEREBUT ANAK

Mukidi dan Ponikem baru saja bercerai dan sedang memperebutkan hak asuh anaknya.

Di ruang sidang pengadilan Ponikem dengan pedenya berkata: "Anak keluar dari perut saya, ya sudah pasti milikku"

Mukidi marah-marah dan menyanggah: "Kok lucu asal ngomong saja, memang kalau uang keluar dari ATM terus uangnya milik ATM? Jelas sudah pasti uangnya punya yang masukin kartu ATM dong."

Jaksa pun terbengong-bengong sambil manggut-manggut dan semua yang hadir di ruang sidang pun tertawa dan memberi tepuk tangan pada Mukidi.

Mukidi kok dilawan!!!


TEMAN MUKIDI MELARIKAN ANAK GADIS ORANG

Abu Wakidi dan Abu Wakijan dihadapkan ke meja hijau. Keduanya dituduh melarikan anak gadis, bedanya; Abu Wakidi membawa lari anak orang, sedangkan Abu Wakijan membawa lari anak kambing. Hakim menjatuhi abu Wakidi hukuman 3 bulan kurungan, sedangkan Abu Wakijan diganjar 3 tahun. “Ini tidak adil!” seru Abu Wakijan protes, “yang mulia, saya keberatan mengapa Abu Wakidi yang melarikan anak orang hanya dihukum 3 bulan, sementara saya yang membawa lari anak kambing malah dihukum 3 tahun….” “Saudara terdakwa,” kata pak hakim bijaksana. “ketahuilah bahwa Abu Wakidi bertanggungjawab mengawani gadis yang dibawanya lari, kalau saudara mau bertanggungjawab mengawini tentu hukumannya tentu akan saya ringankan. Bagaimana?”


MUKIDI ISEP PETASAN

“Loh Di pulang dari Monas koq gigimu pada rompal?” Tanya Wakijan, “kamu jatuh dari motor? “Bukan,” Mukidi masih menahan sakit, “waktu joget semalam aku pikir lebih seru kalau gw pasang petasan.” “Terus kamu dikeroyok orang?” “Bukan, waktu petasan kusulut pakai rokok, rokoknya kulempar. Petasannya kuisep.”


DOA LIHAT BON MAKAN

Pulang Jum’atan, Mukidi diajak ustad yang mengisi khutbah siang ini makan siang di Sederhana. Maklum amplop pak ustad siang ini cukup tebal.

“Ayo mas, sikat saja…” kata ustad, begitu makanan selesai dihidangkan. Bagaikan musafir yang menemukan air di padang pasir, Mukidi mengawali makan siangnya dengan ayam pop lengkap, lalu gulai kepala ikan, giliran berikutnya udang goreng yang menggoda. Pak ustad juga tak kalah gesit. Yang penting halal, lagipula mentraktir orang, besar pahalanya.

Mukidi melengkapi makan siang yang mengesankan itu dengan jus durian. Pak ustad memanggil pelayan untuk menghitung jumlah makanan yang mereka embat. Seperti biasa, si pelayan cekatan sekali menghitung tanpa kalkulator.



“Ustad, apa doanya sesudah makan?” tanya Mukidi sambil mencuci tangan  “Astaghfirullah!” ustad berseru.

“Loh doanya sudah ganti ya? koq astaghfirullah?”

“Bukan! itu doa kalau melihat bon makan siang….”


MUKIDI DAN PAK TUA

Mukidi masuk ke bar. Belum sampai di meja bar, dia melihat seorang bapak tua terduduk di lantai, tanpa suara. Mukidi menolongnya berdiri. Tidak berhasil. Pak tua itu seolah-olah tanpa tulang. Dicobanya sekali lagi, lagi-lagi pak tua tadi menggelosor ke lantai.

“Wah mabok berat rupanya.” Pikirnya. Diapun mulai memesan minum. Setelah selesai minum, dia menghampiri pak tua malang tadi. Dikeluarkannya dompetnya, kemudian dicari KTPnya, lantas Mukidi yang baik ini mengantar pulang ke rumahnya. Di depan pintu rumahnya dia berusaha menegakkan pak tua tadi, tetapi ya itu tadi nggelosor lagi, nggelosor lagi…..


Beruntung setelah menekan bel, seorang wanita yang mungkin isterinya membukakan pintu. “Apakah betul ini rumah pak Tarbok?” tanya Mukidi. Wanita itu mengangguk.

“Syukurlah.” kata wanita tadi ”Anda baik sekali sudah menolong suami saya pulang ke rumah. Tapi ngomong-ngomong, mana kursi rodanya?”


MUKIDI DAN AYAM JAGO GANJEN

Mukidi terbangun tengah malam. Dia kaget, di sudut kamarnya ada sinar yang sangat menyilaukan.

“Dimana aku?” dia bertanya ketakutan.

“Mukidi, kamu sudah mati,” kata sebuah suara.

“Tapi aku belum mau mati, aku masih banyak dosa dan mau bertobat,” teman anda ini mulai terdengar memelas.

“Tidak bisa, kamu sudah mati.”

“Tolonglah, aku berjanji akan menjadi orang baik-baik…”

“Tidak bisa, kecuali kamu mau reinkarnasi…”

“Reinkarnasi? Memang hari gini masih ada?”

“Terserah, mau atau tidak?”

“Be…b…baiklah,” Mukidi tidak punya pilihan.
“Pejamkan matamu!” teman anda menuruti perintah itu. Ketika matanya dibuka dihadapannya ada beberapa butir jagung dan dia sedang mematuki jagung itu. Oh rupanya dia berubah menjadi ayam. “Ah tidak apa-apalah, setidaknya aku belum mati.” pikirnya. Ketika dia sedang asyik makan jagung itu seekor ayam jago mendekatinya berputar-putar narsis. “Ganjen!” pikir Mukidi, lalu menyadari bahwa dirinya menjadi ayam betina. “Celaka!”

Ayam jago genit itu tiba-tiba mematuk tengkuknya lalu menindih tubuhnya. hanya beberapa bentar, hubungan tidak senonoh itu selesai. Mereka berdua lalu akrab. Beberapa waktu kemudian Mukidi merasa perutnya mules.

“Ah itu biasa,” kata si ayam jago. “Mungkin ini masa suburmu. Sebentar lagi kamu bertelur.”

“Bertelur?” Mukidi baru sadar. Dia berpikir, jadi rupanya begini toh rasanya wanita mengandung, betapa mulianya menjadi seorang ibu. “Aku sudah tidak tahan,” katanya. Lalu dengan sekuat tenaga dia mengejan, dan ah akhirnya keluar sudah sebutir telur dari sumbernya…”legaaa….”

Tiba-tiba …buk…buk….sebuah gagang sapu mendarat di bokongnya.

“Dasar pemabuk tua,” Markonah berteriak sambil memukulinya: “Mukidi…Mukidi…. kamu b*r*k di kasur ya?!”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "20 Cerita Humor Mukidi yang Bikin Kamu Ngakak"

Post a Comment