Tradisi Lomban, Sebuah Kearifan Lokal Masyarakat Pantura

Warga saat melarung sesaji berupa kepala kerbau 
Tradisi lomban atau juga sering disebut sedekah laut, merupakan sebuah bentuk rasa syukur  yang hampir banyak dimiliki masyarakat pesisir di nusantara, khususnya di kawasan Pantura. Tradisi sedekah laut dihelat sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan kekayaan laut yang dapat menghidupi para nelayan . 
Di Kecamatan Tayu dan Juwana, Pati, tradisi sedekah laut atau pesta lomban dilaksanakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri atau  tanggal 8 Syawal. Namun, untuk tahun ini, pelaksanaannya mundur, karena jika dilaksanakan tepat pada tanggal 8 Syawal, bertepatan dengan hari Jumat. Dengan hal ini, waktunya diundur menjadi hari Minggu (26/7/2015).

Istilah lomban bagi masyakat Tayu dan Juwana, berasal dari kata “lomba-lomba” atau “lelumban”  yang artinya bersenang-senang . Pesta lomban bisa dikatakan merupakan puncak acara Syawalan, di mana masyarkat merayakan  hari raya dengan bersenang-senang setelah sebulan penuh puasa.


Pesta lomban ini  juga dikenal dengan “Bada Kupat” karena pada perayaan sedekah laut ini, masyarakat Tayu dan Juwana biasanya juga memasak  ketupat dan lepet. Untuk ketupat dan lepet sendiri, digunakan sebagai simbol yang berarti hati yang kembali suci. 

Perayaan pesta lomban juga tidak hanya dirayakan para nelayan saja, namun juga diikuti seluruh masyarakat dari orang tua sampai anak kecil. Mereka berbaur bersama untuk ikut meramaikan pesta lomban yang diadakan setahun sekali.

Wakil Bupati Pati Budiono menyampaikan, jika tradisi lomban atau sedekah laut merupakan salah satu aset budaya yang dimiliki Kabupaten Pati. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati, menurutnya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap tradisi yang hingga kini masih terjaga.

”Ini salah satu kekayaan budaya dan kearifan lokal yang masih tumbuh di dalam masyarakat kita. Untuk itu, pemerintah memberikan support mengenai kegiatan seperti ini. Karena, hal ini juga bisa menjadi tujuan wisata bagi masyarakat,” katanya.

Wabup juga menyebut, dalam pesta lomban ini, ada berbagai ritual yang pelaksanaannya sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Seperti halnya tradisi Larung Sesaji, yakni melarungkan sesaji berupa kepala kerbau ke laut.

Dalam hal ini, menurut wabup, banyak makna pelajaran yang bisa diambil dari tradisi tersebut. Di antaranya, nilai pendidikan, religius, ekonomi maupun nilai kesatuan. 

Dirinya mencontohkan, sebelum melarung sesaji, dengan dipimpin oleh pemuka agama melakukan doa bersama, agar nelayan dan masyarakat senantiasa diberikan kemudahan dalam mencari rizki dan Tuhan selalu melimpahkan rahmat-Nya.

”Dari tradisi seperti ini, juga ada nilai kesatuan, yakni sebuah ajaran gotong-royong yang terus dijaga hingga sekarang,” ungkapnya.

Agenda yang rutin berjalan setiap setahun sekali ini, katanya juga disupport dalam bentuk anggaran yang dialokasikan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Besaran anggaran tentunya tergantung kapasitas kegiatan,” imbuhnya.







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tradisi Lomban, Sebuah Kearifan Lokal Masyarakat Pantura "

Post a comment